Yuk Kenali Apa Itu Kehamilan Ektopik
Apa Itu Kehamilan Ektopik?
Kehamilan ektopik atau yang sering disebut dengan hamil di luar kandungan adalah kelainan dimana ibu mengandung janin di luar rahim. Pada kehamilan normal, janin menempel pada dinding rahim hingga masa persalinan nanti, sedangkan pada kehamilan ektopik, kehamilan berada di luar rahim. Biasanya lokasi terjadinya kehamilan ektopik ini ada di tuba falopi, indung telur, leher rahim (serviks), atau rongga perut.
Tanda dan Gejala Kehamilan Ektopik
Gejala kehamilan ektopik biasanya muncul diantara minggu ke-4 dan ke-12, atau sekitar dua hingga sepuluh minggu setelah pembuahan. Gejala kehamilan ektopik ini bisa beragam tergantung pada lokasi menempelnya sel telur. Beberapa ibu yang mengalami kondisi ini mengeluhkan gejala seperti penyakit usus buntu.
Gejala kehamilan ektopik cukup sulit didiagnosis karena beberapa gejalanya mirip dengan gejala atau perubahan normal di awal kehamilan, misalnya mual, kelelahan, atau payudara mengencang. Kram dan bercak darah juga mungkin menjadi tanda kehamilan ektopik. Moms perlu segera menghubungi dokter bila mengalami gejala yang lebih serius khususnya:
- Bercak darah, pendarahan, atau bercak kecoklatan yang abnormal setelah tes kehamilan
- Perdarahan di vagina muncul dengan jumlah yang dapat lebih banyak atau lebih sedikit daripada saat haid
- Kram atau nyeri hebat di perut, biasanya di bagian bawah perut atau panggul. Nyeri tajam ini hilang timbul dengan intensitas yang berbeda
- Nyeri punggung bagian bawah
Jika tidak ditangani segera, kehamilan ektopik khususnya yang berada di tuba falopi dapat menyebabkan tuba falopi pecah. Pada kondisi ini Moms mungkin merasakan:
- Pendarahan banyak hingga deras
- Nyeri di perut semakin hebat dan tajam
- Tekanan pada anus
- Tekanan darah meningkat karena pendarahan
- Lemah, letih, dan pusing hingga bisa pingsan karena pendarahan
- Nyeri menjalar ke leher dan bahu karena darah terakumulasi di diafragma
Penyebab dan Faktor Risiko
Kehamilan ektopik terjadi karena sel telur bergerak lambat atau terhambat di tuba falopi setelah terjadi pembuahan. Hal ini disebabkan karena tuba falopi infeksi, radang, atau mengalami kerusakan sehingga terjadi perlengketan yang menutup jalan sel telur yang telah dibuahi menuju ke dinding rahim
Penyebab lainnya yaitu adanya masalah perkembangan pada janin, sehingga menyebabkan hasil pembuahan tidak dapat menempel pada dinding rahim. Selain itu juga bisa dikarenakan gangguan ketidakseimbangan hormon.
Beberapa faktor risiko kehamilan ektopik diantaranya:
- Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya
- Pernah menjalani operasi tuba falopi, operasi panggul, dan operasi perut sebelumnya
- Memiliki infeksi menular seksual (IMS)
- Radang atau infeksi panggul
- Penyakit peradangan dinding rahim (endometriosis)
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat memperparah atau meningkatkan risiko kehamilan ektopik meliputi:
- Merokok saat hamil
- Berusia lebih dari 35 tahun saat hamil
- Memiliki riwayat ketidaksuburan sebelumnya
- Sedang dalam pengobatan atau terapi kesuburan seperti bayi tabung (IVF) yang memengaruhi implantasi pada hasil pembuahan
Meskipun Moms mungkin tidak memiliki faktor risiko, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter ya apabila mengalami gejala di atas untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, Moms.
Diagnosis Kehamilan Ektopik
Kalau Moms tidak mengalami kerusakan tuba falopi ataupun pernah mengalami operasi tuba falopi sebelumnya, tapi dokter kandunganmu menduga ada indikasi kehamilan ektopik maka akan dilakukan beberapa tindakan seperti:
- melakukan pemeriksaan panggul
- melakukan pemeriksaan USG untuk memantau janin dan kehamilanmu
- melakukan tes darah untuk melihat hormon hCG
Tindakan-tindakan di atas dilakukan untuk mendiagnosis apakah Moms mengalami kehamilan ektopik atau tidak.
Penanganan dan Pengobatan
Kehamilan ektopik tidak bisa dipindahkan atau berpindah ke rahim, oleh karena itu kehamilan ektopik membutuhkan penanganan khusus. Metode untuk menangani kehamilan ektopik yaitu sebagai berikut.
1). Pengobatan
Obat yang paling sering diresepkan untuk kehamilan ektopik yaitu methotrexate. Jika dokter mendiagnosis Moms dengan kehamilan ektopik, kemungkinan Moms akan diberikan obat ini. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan sel-sel untuk terus berkembang, yang mana artinya akan menghentikan kehamilan. Sel-sel tersebut kemudian akan melumat dan terserap oleh tubuh kurang lebih selama 4-6 minggu. Pengobatan ini tidak memerlukan prosedur pengangkatan tuba falopi.
Methotrexate diberikan apabila kehamilan belum sampai menyebabkan pecahnya tuba falopi. Sebelum memberikan obat ini, dokter akan melakukan tes darah untuk mengecek kadar hCG. Moms mungkin tidak bisa mengonsumsi methotrexate apabila sedang menyusui atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
2). Operasi
Jika kehamilan ektopikmu sudah sampai menyebabkan pecahnya tuba falopi, maka diperlukan operasi segera. Beberapa kondisi juga memerlukan operasi meskipun tuba falopinya belum sampai pecah. Pada kasus ini, kehamilan ektopik bisa diangkat dari tuba falopi atau bahkan hingga pengangkatan tuba falopi.
Referensi
The American College of Obstetricians and Gynecologist. (2021). Ectopic Pregnancy. Retrieved from https://www.acog.org/womens-health/faqs/ectopic-pregnancy
National Health Services UK. (2022). Ectopic pregnancy. Retrieved from https://www.nhs.uk/conditions/ectopic-pregnancy/
Jain, M. What To Expect. (2021). What Happens If You Have an Ectopic Pregnancy. Retrieved from https://www.whattoexpect.com/pregnancy/ectopic-pregnancy/